Wednesday, 22 November 2017

kisruh kongres PPWI

Pantun:
Gedung MPR dan DPR adalah gedung terhormat
Tempat rakyat menyalurkan aspirasi
Setiap tamu yang datang harus di layani dengan baik dan cermat.
Agar segala permasalahan bisa dicarikan solusi.

Demo di Gedung MPR dan DPR

Itulah gambaran gedung MPR dan DPR kita, gedung indah dan megah, yang berada dikawasan Senayan, Jakarta. Hari ini Mpo datang ke kongres nasional PPWI yang di selenggarakan di gedung Nusantara Lima, Sebenarnya Mpo tidak tahu apa itu PPWI? , Lalu kenapa Mpo sampai datang kesitu? Begini nih ceritanya, hari itu tepatnya tanggal 11 November 2017, niat awal Mpo untuk datang kesana adalah untuk bikin video apikasi belanja bersama Ovi dan Sifa, sekaligus menghadiri kongres nasional Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI). Mpo daftar ke kongkres lewat what app mba Esti.

Pukul 07.45 Mpo datang bersama Lina, salah satu mahasiwi UNJ, kebetulan kita kenalan di busway. Lalu kita antri untuk absensi dan menandatangi biaya ongkos transport sebesar Rp110.000. Singkat cerita kita mengikuti acara empat pilar kebangsaan dan di perkenalkan perwakilan anggota PPWI dari berbagai daerah. Selesai pembahasan tersebut, Mpo dan Sifa keluar ruangan untuk ke toilet sekalian mau ambil snack, kebetulan Mpo dan para blogger sebanyak 15 orang belum kebagian snack sedangkan peserta yang lain sudah.

Pas sampai di luar, banyak orang yang marah marah yang tidak mendapatkan snack. Beruntungnya Mpo dan teman blogger mendapatkan kupon makan siang. Nampaknya kisruh mulai terjadi karena ada beberapa orang yang tidak mendapatkan kupon. Waktu jam makan siang, Nasi box kami ambil dengan cara berebutan. Oh NO, desak desakan hanya sebuah nasi box, lalu apa gunanya kami di beri kupon makan?.

Nasi Box yang tersedia juga sedikit dibandingkan peserta yang datang, akhirnya kami disuruh masuk gedung. Sambil menunggu pesanan nasi box untuk para peserta yang belum datang, kami di beri pengarahan bahaya narkoba dari pihak BNN. Dari awal kita selalu di pingpong oleh panita yang selalu bilang, “nanti dibagikan di dalam, sedangkan di luar dibagikan sehingga terjadinya kericuhan”. Kericuhan mulai dari pembagian snack, makan siang sampai goodie bag yang berisikan tas dan buku empat pilar kebangsaan.

Sampai akhirnya kita yang hadir membentuk panitia dimana peserta yang hadir plus berprofesi sebagai advokat untuk mempermasalahkan masalah ini ke jalur hukum dan meminta panitia untuk transparasi keuangan, karena kami menandatangi menerima uang transport Rp110.000 akan tetapi uang tersebut tidak kami terima.

Akhirnya Bapak Wilson sebagai ketua 2 scering commite PPWI memberikan penjelasan keuangan PPWI “kami tidak punya uang, anggota kami tidak di kenakan iuran bulanan, itulah laporan sesungguhnya”. Menurut panitia scering commite PPWI mendapatkan dana dari MPR untuk 500 orang @Rp110.000 dan sudah di pergunakan untuk biaya spanduk, makan peserta dll sehingga sisa uang dua puluh juta lebih. Sisa uang tersebut jika di bagi seluruh peserta yang hadir hanya mendapatkan uang Rp61.000 perorang.

Semakin malam semakin panas, karena kita menuntut uang yang telah kita mendatangi sebesar Rp110.000 atau kita mendatangi ulang sebesar Rp61.000 untuk laporan ke MPR dan merobek tandatangan yang tadi pagi kami tanda tangani. Dengan argumentasi sangat sengit sampai malam dan akhirnya panitia memberikan juga uang Rp110.000 hanya untuk peserta yang masih bertahan di gedung Nusantara Lima.

Ini adalah pengalaman yang tidak terlupakan karena di gedung yang terhormat, jelas jelas kita melihat nyata ketidak adilan. Jika panitia mempersiapkan kongres dengan baik, terencana dan tidak hanya mengandalkan uang dari MPR untuk mengadakan kongres , pastinya kongkres ini berjalan dengan lancar.

Peristiwa ini bisa jadi pelajaran bagi kita semua yang membacanya, oh ya kamu tahu gak sih PPWI? kamu pernah masuk gedung MPR DPR? Cerita dong di kolom komentar

0 comments:

Post a Comment