Monday, 29 August 2016

pohon menghasil warna kain, warna alaminya pada kain memperindah mahakarya sebuah kain

Warna kain tradisional tak hanya memakai pewarna kimia tekstil akan tetapi memakai pewarna alami yang berasal dari alam. hampir semua tanaman bisa menjadi pewarna alami, Pewarna alami tak hanya bisa didapatkan dari bagian buah tapi bisa diperoleh dari kulit kayu tanaman. 

Berikut tanaman yang bagian tumbuhan yang bisa dijadikan pewarna alami: 
1. Pohon akasia menghasilkan warna coklat dari kulit kayu. 
2. Pohon kayu malau menghasilkan warna hitam bisa diambil dari kulit kayu.
3. Pohon bacang menghasilkan warna merah bisa diambil dari kulit kayu. 
4. Pohon tegan menghasilkan warna hitam bisa diambil dari kulit kayu.
5. Pohon kawasan menghasilkan warna orange bisa diambil dari buah. 
6. Pohon mengkudu menghasilkan warna merah bisa diambil dari kulit akar. 
7. Pohon saga menghasilkan warna kuning bisa diambil dari kulit batang.
8. Pohon ketapang menghasilkan warna hitam bisa diambil dari kulit, daun,akar, buah muda. 
9. Pohon plasa menghasilkan warna kuning bisa diambil dari bunga. 
10. Pohon tarum menghasilkan warna biru bisa diambil dari daun. 
11. Pohon noja menghasilkan warna merah bisa diambil dari daun cabang muda. 
12. Pohon jirak menghasilkan warna kuning bisa diambil dari kulitnya.
13. Pohon gambir menghasilkan warna hitam bisa diambil dari daun dan cabang muda. 
14. Pohon mangga menghasilkan warna hijau bisa diambil dari daun.
15. Pohon kesumba menghasilkan warna orange bisa diambil dari biji. 
16. Pohon sri gading menghasilkan warna krem bisa diambil dari daun 
17. Pohon alpukat menghasilkan warna hijau kecoklatan bisa diambil dari daun, kulit,buah. 
18. Pohon jambu biji menghasilkan warna hijau bisa diambil dari daun. 
19. Pohon mahoni menghasilkan warna coklat bisa diambil dari kulit kayu. 
20. Pohon andong menghasilkan warna hijau bisa diambil dari daun. 

Untuk melihat pohon penghasil warna kain, teman bloger bisa berkunjung langsung di museum tekstil di kawasan tanah abang-jakarta

santai sejenak sambil menikmati keindahan pohon penghasil warna kain

Ke museum tekstil di kawasan tanah abang tak hanya bisa melihat kain atau belajar membatik tapi kita bisa juga santai sejenak di kursi taman sambil menikmati angin yang berhembus sepoy-sepoy ditaman pewarna kain . 

Ditanam pewarna kain ini tak hanya bisa duduk sambil memainkan gadget tapi kita bisa menyalurkan hobi fotografi memotret pohon pohon penghasil pewarna kain. Di taman pewarna kain tak hanya bisa melihat pohon-pohon yang bisa menghasilkan warna kain tapi kita bisa juga melihat pohon yang menghasilkan kain seperti pohon kapuk , pohon lidah mertua bisa dijadikan serat penghasil kain. 

Sebuah taman tak sekedar buat santai tapi sebuah taman memberi banyak pelajaran bahwa untuk mencintai ciptaannya .

Saturday, 27 August 2016

identitas sebuah bangsa dalam selembar kain tradisional

Memasuki ruangan pameran kain tradisional yang berada di Negara ASEAN kita akan merasakan wanginya bunga sedap malam dan melati putih serta lagu lawas yang akan membuat kita terbuai oleh keindahan dan keelokan setiap kain dari Negara ASEAN. Pameran kain tradisional yang diselenggarakan di museum tekstil dari mulai tanggal 24 – 25 agustus 2016. 

Pameran kain-kain tradisional dari Negara ASEAN tak hanya dibuat untuk syal, tas akan tetapi kain tradisional bisa dibuat menjadi penutup jenazah. Tujuan diselenggarakan pameran ini tak hanya memperkenalkan kemasyarakat tapi menarik kaum muda untuk membentuk kecintaan terhadap kain tradisional dan memakainya. 

Pada pameran kain tradisional Negara ASEAN, Indonesia sendiri banyak sekali kain-kain tradisional dipameran kali ini Indonesia menampilkan dari sumatra barat, kain lunggi dari Kalimantan barat dan kain el raja, kain tais dari NTT. Salah satu kain tradisional yang dipamerkan adalah kain inladdang dari Luzon philipina . kain inladdang yang terbuat dari kapas yang dipintal yang biasanya dijadikan selimut konon zaman dahulu sebagai penutup jenazah, warna hitam keabu-abuan dari kain ini terbuat dari lumpur sawah. dipameran ini tak hanya bisa melihat tapi kita bisa membeli kain tradisional dari Negara ASEAN.
kain inladdang dari filiphina
konon zaman dahulu buat penutup jenazah
warna hitam keabuan terbuat dari lumpur sawah
selendang biasanya untuk uppacara dipakai oleh seorang laki-laki bangsawan
tanjung sungayang,tanah datar sumatra barat

symposium kain tradisional negara ASEAN

Pada tanggal 25 agustus 2016 bertempat di museum tekstil Jakarta di bukanya tekstil symsposium oleh ibu maria woworuntu. 

Symsposium kali ini menghadirkan pembicara dari berberbagai Negara yang memperkenalkan kain tradisional di Negara mereka . para ahli tersebut adalah assisten prof sittchai smanchat Ph.D ( Thailand), prof dato oetman yatim (kuala lumpur), Mrs nang mya oo (Myanmar), MR peter lee (Singapore) dan Indonesia sendiri diwakilkan oleh Dr. tjokorda istri ratna cora sudharsana, S.Sn  (ubud bali) dan Drs. Dwi P sulaksono (peneliti dari museum tekstil dari Kalimantan selatan). 

Ibu ratna coro memperkenalkan sutra yang dilukis dengan sentuhan tradisional yaitu menggunakan kuas bamboo. Sedangkan untuk motif ia melakukan riset terlebih dahulu sebelum ia menuangkan idenya dalam selembar sutra, biasanya motif yang digunakan adalah motif bunga dan kegiatan masyarakat bali, ataupun ikon-ikon kota bali. Mrs nang mya oo dari myamar memperkenalkan serat kain yang terbuat dari bunga teratai. Ide nmembuat serat bunga teratai dikarenakan untuk memanfaatkan Bunga teratai yang banyak terdapat di daerah sungai inlay ,myamar . Serat dari bunga teratai biasanya dibuat syal akan tetapi sekarang ini serat bunga teratai bisa di padukan dengan sutra ataupun bahan katun. 

Tak hanya sekedar memperkenalkan masing masing kain tradisional dari Negara masing-masing akan tetapi mereka menjelaskan bagaimana kebijakan pemerintahnya dalam mengembangkan kecintaan kepada generasi muda. 

assiten professor sitthichai dari thailand
menjelaskan kebijakan pemerintah thailand dalam menggalakan kecintaan kain tradisional ke generasi muda
Saat jam makan siang para pembicara dan tamu undangan disuguhkan nasi bogana dan bir pletok . untuk menemani makan siang para undangan menikmati hiburan music gambang kromong dari dendang Jakarta. 

Di symsposium tekstil kain kain tradisional para pengunjung tak sekedar menambah wawasan mereka tapi bisa membeli kain-kain tradisional dari Negara yang menjadi pembicara sysmposium.

Tuesday, 9 August 2016

siapa yang menang di film sadako VS kayako?



5 agustus 2016 bertempat di GCV Blitz grand Indonesia mengadakan premier film sadako VS kayako. Kebetulan saya mendapatkan tiket dari twitter  https://twitter.com/babacucudotcom

Sebelum memasuki bioskop para peserta nonton bareng melakukan regritasi dan di beri dua buah pita yang berwarna biru sebagai pendukung sadako dan pita berwarna merah sebagai pendukung kayako. 
Film ini menceritakan petarungan antara dua hantu asal jepang yaitu sadako dan kayako. Manakah yang menang diantara dua hantu ini?
 

Sekedar informasi film  Sadako dari franchise Ring sedangkan Kayako dari franchise Ju-on atau The Grudge . film sadako vs kayako akan membuat bulu kuduk anda merinding dan suara teriakan . 

film yang di sutradaranya Koji Shiraishi patut anda tonton dan pastinya kalo nonton ajak teman yang banyak biar gak takut pulang sendirian.
This entry was posted in